Saya terkejut (walau sudah lama menduga, tetapi tetap saja terkejut) ketika mendengar gugatan pailit yang menimpa PT Jakarta Monorail. Gabungan berbagai perusahaan yang membentuk satu badan yang ditunjuk Pemprov DKI Jakarta untuk membangun monorail di ibukota. Sangat sayang sekali kalau perusahaan yang mengemban misi mengurai (tepatnya mengurangi) kemacetan di Jakarta ini harus gulung tikar karena alasan permodalan.
Harap maklum, karena sudah lebih dari tiga tahun mereka mendapatkan proyek ini, tetapi pemodal dari negeri manca tidak ada yang mau melirik. Alasannya pun macam-macam. Ada yang bilang tidak ada support penuh dari pemerintah berupa jaminan hingga -ini yang parah- ada pemodal yang berjanji menanam investasi tetapi ternyata hanya modal dengkul. Alias, perusahaan itu ternyata juga makelar (sama kali ya dgn PT Jakarta Monorail?) yang hanya bermodal izin lalu cari modal lagi ke pihak lain.
Terlepas dari berbagai kendala itu, sudah sepantasnya pemerintah DKI maupun pusat memikirkan jalan keluar percepatan investor asing (kabarnya Bank Dubai sudah serius) untuk membiayai monorail yang diperkirakan butuh dana ratusan juta dolar.
Sebagai warga ibukota, saya dan mungkin warga lain tentu menginginkan proyek itu cepat terlaksana. Jangan sampai pengadilan memenangkan penggugat lalu pembangunan monorail terkatung-katung lagi hingga tak jelas arahnya.

Masak sih, Jakarta tidak bisa seperti Kota Bangkok yang memiliki nasib serupa Jakarta sepuluh tahun silam. Coba kita tengok ibu kota negeri Gajah Putih itu sekarang. Dua kali saya kesana (2006 dan 2007), dua kali pula saya terkagun-kagum. Secara jumlah penduduk, luas wilayah, hingga APBD, beda-beda tipis dengan Jakarta. Tetapi kok penampilannya jauh berbeda ya? Nyaman dan amannya tinggal di san, salah satunya bisa dilihat dari banyak turis asing yang wira-wiri di jalanan ibu kota. Hampir setiap sudut jalan, pasti terlihat ada turis bule, jepang, atau belahan benua lain. Mereka merasa nyaman tinggal dan menikmati liburan di kota sejuta pagoda itu.
Monorail dan subway-nya menjadi tulang punggung transportasi utama di sanaPenduduknya -yang mayoritas tinggal di pinggiran kota- cukup naik mobil hingga di batas kota. Lalu, mereka beralih naik monorail atau subway menuju tengah kota. Hasilnya, tidak ada kemacetan di kota. Pemerintah setempat juga membatasi jumlah mobil pribadi di tengah kota dengan menerapkan pajak dan parkir on street maupun off street setinggi langit.
Mungkin, itulah yang dicita-citakan oleh Gubernur Sutiyoso. Tetapi, bagaimana membatasi mobil kalau sarana transportasi massal ke tengah kota saja seperti sekarang ini. Sudah macet, sumpek, kotor, sopirnya ugal-ugalan, banyak copetnya lagi! Mending naik mobil/sepeda motor sendiri. Lebih aman.
Busway, monorail, dan subway (katanya dari Lbk Bulus-Kota) yang diharapkan menjadi solusi malah jalannya terseok-seok. Bagaimana ini? Goodwill pemerintah kelihatannya perlu dipertanyakan.
Ah…pusing ah, mending pulang ngeloni anak!