The Siallagan’s…

Shock juga mendengar keluhan si Mbak Siti, yang anaknya baru mau masuk SMP. Sekolah yang ‘abal-abal’ saja harus bayar Rp 2,5 juta. Lha yang favorit gimana? ck…ck…ck…

Teman kerja beberapa hari sebelumnya juga mengeluhkan mahalnya biaya uang masuk kuliah anak pertamanya di FK UKI Cawang. Uang masuk Rp 105 juta! Itu pun harus lunas dalam dua bulan.  Sementara semesterannya Rp 20 juta. Berarti per bulan sekitar Rp 3,6 juta. Hih…ngeri mbayanginnya. Pantas saja kawanku yang senior ini hanyan bisa delek-delek saat tiba di kantor. “Nggak kuat aku Fol, tak masukin Perbanas saja, lebih murahan,” katanya. Lebih murah itu maksudnya, uang pangkal Rp 65 juta, semesteran Rp 17 juta. Tetap aja mahal Bung!

Dulu aku kuliah saja hanya Rp 360 ribu/ semester. Jumlah itu sdh aku mark up yang seharusnya hanya Rp 180 ribu. Sisanya? Buat nutup utang…

Hidup semakin berat. But, life must go on. Selama tujuan hidup sdh ditetapkan, spirit tetap membara. Inilah spirit-spirit hidupku.

My girls…

My Boy…

Komentar (1) »

With Artika

Ternyata anakku pantas jadi anaknya Artika si Putri Indonesia 2005 itu ya??? Maksudnya sama-sama cantik gitu, hehehehe…

With Artika

dsc00734.jpg

Komentar (1) »

KarangLo

Sudah lama nggak merambah blog nih…

Teringat lagi waktu ‘niliki’ cah-cah di Dlingo, Tawangmangu, akhir tahun lalu. Pemicunya, tayangan TV Wisata Kuliner dengan tema sate dan tongseng landak. Pikiran mengembara ke sebuah rumah makan khusus daging landak di jalan raya Karang Lo persis di bawah Tawang Mangu, Karanganyar. Apalagi, rumah makan yang dipakai sama dengan yang kami pakai saat ‘niliki’ cah-cah itu.

 

Ternyata, memang mantap sekali rasanya. Dagingnya memang agak kasar,tetapi citarasanya klasik dan nendang di lidah, seperti kata Pak Bondan si presenter Wisata Kuliner itu. Aku sampai keleleran gak bisa bergerak usai menyantap seporsi sate landak plus seporsi tongseng landak. Pokoke Mak Nyus…!!!!

Komentar (1) »

Lebaran kok masuk kerja?

Ini adalah lebaran ke-5 yang saya alami sejak hijrah ke Jakarta 1 Maret 2003 lalu. Selain itu, hari ini juga piket lebaran ke-5 yang saya alami di kantor, mengawal koran tetap terbit menyapa pembaca. Tahun pertama bertugas terasa aneh dan janggal. Lha wong, yang lain pada silaturahmi, keliling sanak saudara, dan kumpul-kumpul, kok ini malah masuk kerja. Sorot mata para tetangga juga bernada keheranan, tetapi apa mau dikata. Perintah ya harus dilaksanakan!
Banyak orang, terutama sesama teman jurnalis, menilai kebijakan Jawa Pos Group ini dianggap terlalu kejam dan memeras karyawan. Tetapi, yang terjadi di dalam justru sebaliknya. Ketika rapat koordinasi lebaran lalu, ternyata jumlah petugas piket lebaran dianggap terlalu banyak. Meski dipaksa libur, banyak yang menolak dan memilih untuk piket. ”Gimana sih ini? Disuruh libur kok pada nggak mau?” kata Pak Irwan, Pimred kami keheranan.
Itulah kenyataannya, di luar orang menilai kebijakan perusahaan kejam, tetapi di dalam orang malah berebut piket. Apa karena insentifnya? Padhl jumlahnya jg nggak manusiawi.

”Lagian, ngapain juga di rumah,” kata Dewi, si anak baru, orang Solo asli, tp ora iso boso Jowo, yang sejak lahir sudah tinggal di Jakarta. Alasan dia masuk akal juga. Lagian, ada hiburan menarik selama kita masuk piket. Sebab, parcel yang datang entah darimana terus mengalir ke kantor. Begitu si pengantar parcel menghilang, maka serbu…..!!! Yang tersisa akhirnya hanya keranjangnya saja.
Begitulah kantor kami, unik dan aneh.

Komentar (2) »

Culun

Kamis malam, aku surprise dengan kiriman dari Andru. Dia kirim 22 foto masa lalu yang ada aku di dalamnya. Cewek satu ini memang baek banget banget, soalnya beberapa hari sebelumnya aku minta tolong dikirimi koleksi foto zaman dulu via email.

Begitu melihat fotonya, maka seketika aku tergelak keras sekali. Soalnya fotoku culun sekaleee…!! Teman-teman kantor yg melihat aku cekikikan merasa penasaran dan mendekat.

Hasilnya? Mereka juga tergelak.

Melihat foto-foto itu membangkitkan memori zaman kul dulu dan itu membuatku semakin kangen dengan saat-saat indah itu. Thanks ya Ndru, kau baek sekali…

Komentar bertahan »

Hallo Gank!

Iseng, aku buka google di internet cari kata mahafisippa. Eh, ketemu blog-nya Atiek si None Blonde. Yang membuat antusias, ada foto grombolan mfp sedang mejeng (sayaada di tengah-tengahnya) dengan seragamnya barunya.

Saya kok malah lupa ya kapan tuh foto diambil, mengapa diriku ada di tengah kerumunan adik-adik tercinta itu? What ever lah, yang penting fotonya aku ambil dan aku simpan untuk dokumen pribadi.

Memang, akhir-akhir ini aku getol mengumpulkan foto-foto waktu muda dulu (cuih…kayak udah tua aja, pdhl masih 20-an tahun loh hehehe…). Ini penting, supaya kalau sudah tua (renta maksudnya) ntar, ada sesuatu yang bisa dikenang. Untuk yang satu ini, Andru si cewek Magelang sdh kukontak dan dijawab oke.

Perempuan besi ini (sebutan orang-orang sih) ternyata memiliki foto dokumentasi pribadi yang di dalamnya ada diriku juga. “Sak ndayak Bang,” tulisnya dalam jawaban di FS-ku. Itu menggambarkan betapa dia menyimpan banyak fotoku, jangan-jangan Andru salah satu penggemarku dulu?? Whuekk cuih…! (ini kata Andru kalau baca tulisan ini) Btw, thanks ya Ndru dan thanks juga Mpok Atiek! Semoga kalian cepat kawin, eh salah menikah!

Komentar (7) »

Sedih…

Sudah tiga malam ini Aura muntah. Muntah memang hanya sekali, tetapi rutin setiap hampir tengah malam. Biasanya, muntah terjadi saat dia batuk. Mungkin saking kerasnya batuk, semua isi perut keluar semua.
Akibatnya, sprei basah semua. Kalau sudah begini, akhirnya Mbak Siti yang dapat tambahan pekerjaan membersihkan sprei. Jadi, sejak tiga hari ini pula, Mbak Siti setiap hari mencuci sprei. Maaf ya Mbak! Beruntung dia tipikal wanita sabar dan rajin, jadi nggak perlu disuruh langsung tahu apa yg mesti dikerjakan. Mbak Siti sudah ikut kami sejak tiga tahun lalu. Tetapi, sempat berhenti lalu kerja lagi. Karena kami sudah kenal keluarganya, jadi dia cukup dipercaya.
Soal batuknya Aura, anehnya, dia baru bisa tidur kalau isi perutnya dikeluarkan semua. Walau sedih, tetapi ada juga senangnya. Soalnya, setelah itu dia bisa tidur nyenyak.

Untuk mengatasi batuk disertai muntah, saya dan istri sudah memberi berbagai obat namun tidak manjur. Mulai dari triaminic hingga actifed. Akhirnya kami konsultasi ke Dr Arhan, RSP Cinere. Dan diberilah obat, semoga mulai malam ini Aura nggak batuk lagi.

Komentar (1) »

Oh…mapala!

Hari ini, peristiwa kebakaran di sejumlah hutan Indonesia mendominasi atau setidaknya dimuat di hampir semua media massa. Ironisnya, kebanyakan kebakaran itu terjadi di beberapa gunung berapi yang kerap dijadikan ajang pendakian, baik oleh masyarakat awam, turis, hingga para mahasiswa/siswa pecinta alam.
Saya mengelus dada jika mendengar banyak gunung yang terbakar karena dugaan ulah tangan manusia. Dugaan itu bisa jadi benar karena mayoritas titik api selalu berada tidak jauh dari jalur pendakian.
Saya teringat beberapa tahun silam dimana hampir semua gunung di Indonesia terbakar. Mulai dari Gn. Lawu, Selamet, Ciremai, hingga Semeru. Semua tidak luput dari kobaran api. Bahkan gunung paling basah, setahuku lho, yang kini menjadi taman nasional Gunung Argopuro juga ikut terbakar.
Gunung-gunung itu setiap musim libur, baik sekolah maupun libur resmi pemerintah, selalu ramai didaki orang. Salah satu yang paling sering adalah para mahasiswa pecinta alam atau jamak disebut mapala.
Sebagai kelompok menamakan diri mapala, sudah sepantasnya mereka bertanggungjawab menekan terjadinya musibah yang tidak hanya merusak ekosistem gunung tersebut tetapi juga merugikan warga di sekitar gunung tersebut.
Namun, dalam kenyataannya, jarang sekali ada kelompok mapala yang secara aktif membuat program secara komprehensif yang bersinggungan langsung dengan mengatasi musibah tersebut. Sebagian besar mapala, setidaknya sampai saat ini, masih disibukkan oleh permasalahan internal mereka. Mulai dari soal keorganisasian, pencitraan keluar dengan berbagai ekspedisi yang ‘wah’, hingga sibuk bergelut dengan berbagai program untuk menunjukkan eksistensi kelompok mereka baik di dalam maupun di luar kampus. ”Jangankan mengurus lingkungan, mengurus diri sendiri saja mereka sudah kelimpungan,” tulis SMS dari salah seorang temanku yang prihatin dengan berbagai kebakaran itu.
SMS itu sedikit banyak menohok saya. Sebab, tahun 98-an hingga 2000-an, ketika dulu masih aktif di mapala, kepala saya justru dipenuhi oleh urusan-urusan internal organisasi. Mulai dari mengembangkan organisasi yang saat itu hampir mati suri, hingga membentuk manajemen kepengurusan yang kuat dan solid. Saya akui, SMS itu walau terdengar menyakitkan tetapi benar adanya.
Kini, keberadaan mapala di hampir semua perguruan tinggi memang tidak ’segagah’ dulu pada tahun 70-an hingga akhir 1990-an. Kini, mahasiswa lebih memilih kegiatan yang menyentuh langsung dunia pekerjaan (kejar IPK tinggi) dan uang. Walau banyak di antaranya yang lulus dengan cumlaude hanya jadi sales atau ’hanya’ menjadi penjual makanan di kaki lima. Banyak yang menganggap masuk mapala hanya memperlambat masa kelulusan dan tidak berhubungan langsung dengan dunia pekerjaan. Pemikiran yang saya tolak mentah-mentah. (Walau saya lulus tujuh tahun lebih tetapi bukan karena mapalanya, tetapi dasar aku-nya saja yang mbeler hehehe)

Kini, posisi mapala yang kurang ’mentereng’ di mata mahasiswa membuat power mereka juga menurun. Jadi, lagi-lagi efeknya terbukti seperti SMS kawan saya tadi.

Walau demikian, ini bukan menjadi pembenaran bahwa mapala harus menyerah dan memilih mengurangi kegiatan yang berbau pemeliharaan dan penyelamatan lingkungan hidup. Saya percaya teman-teman mapala tentu sudah berpikir ke arah sana, hanya mungkin masih bersifat sporadis dan belum terencana. Jadi, tetaplah berjuang kawan-kawan!

Komentar (3) »

Macet, kenapa ya?

Saya terkejut (walau sudah lama menduga, tetapi tetap saja terkejut) ketika mendengar gugatan pailit yang menimpa PT Jakarta Monorail. Gabungan berbagai perusahaan yang membentuk satu badan yang ditunjuk Pemprov DKI Jakarta untuk membangun monorail di ibukota. Sangat sayang sekali kalau perusahaan yang mengemban misi mengurai (tepatnya mengurangi) kemacetan di Jakarta ini harus gulung tikar karena alasan permodalan.

Harap maklum, karena sudah lebih dari tiga tahun mereka mendapatkan proyek ini, tetapi pemodal dari negeri manca tidak ada yang mau melirik. Alasannya pun macam-macam. Ada yang bilang tidak ada support penuh dari pemerintah berupa jaminan hingga -ini yang parah- ada pemodal yang berjanji menanam investasi tetapi ternyata hanya modal dengkul. Alias, perusahaan itu ternyata juga makelar (sama kali ya dgn PT Jakarta Monorail?) yang hanya bermodal izin lalu cari modal lagi ke pihak lain.

Terlepas dari berbagai kendala itu, sudah sepantasnya pemerintah DKI maupun pusat memikirkan jalan keluar percepatan investor asing (kabarnya Bank Dubai sudah serius) untuk membiayai monorail yang diperkirakan butuh dana ratusan juta dolar.

Sebagai warga ibukota, saya dan mungkin warga lain tentu menginginkan proyek itu cepat terlaksana. Jangan sampai pengadilan memenangkan penggugat lalu pembangunan monorail terkatung-katung lagi hingga tak jelas arahnya.

Sejuta Pagoda

Masak sih, Jakarta tidak bisa seperti Kota Bangkok yang memiliki nasib serupa Jakarta sepuluh tahun silam. Coba kita tengok ibu kota negeri Gajah Putih itu sekarang. Dua kali saya kesana (2006 dan 2007), dua kali pula saya terkagun-kagum. Secara jumlah penduduk, luas wilayah, hingga APBD, beda-beda tipis dengan Jakarta. Tetapi kok penampilannya jauh berbeda ya? Nyaman dan amannya tinggal di san, salah satunya bisa dilihat dari banyak turis asing yang wira-wiri di jalanan ibu kota. Hampir setiap sudut jalan, pasti terlihat ada turis bule, jepang, atau belahan benua lain. Mereka merasa nyaman tinggal dan menikmati liburan di kota sejuta pagoda itu.
Monorail dan subway-nya menjadi tulang punggung transportasi utama di sanaPenduduknya -yang mayoritas tinggal di pinggiran kota- cukup naik mobil hingga di batas kota. Lalu, mereka beralih naik monorail atau subway menuju tengah kota. Hasilnya, tidak ada kemacetan di kota. Pemerintah setempat juga membatasi jumlah mobil pribadi di tengah kota dengan menerapkan pajak dan parkir on street maupun off street setinggi langit.
Mungkin, itulah yang dicita-citakan oleh Gubernur Sutiyoso. Tetapi, bagaimana membatasi mobil kalau sarana transportasi massal ke tengah kota saja seperti sekarang ini. Sudah macet, sumpek, kotor, sopirnya ugal-ugalan, banyak copetnya lagi! Mending naik mobil/sepeda motor sendiri. Lebih aman.

Busway, monorail, dan subway (katanya dari Lbk Bulus-Kota) yang diharapkan menjadi solusi malah jalannya terseok-seok. Bagaimana ini? Goodwill pemerintah kelihatannya perlu dipertanyakan.

Ah…pusing ah, mending pulang ngeloni anak!

Komentar bertahan »

Tambah buntut

Sabtu pagi, istri membangunkan tidurku yang tidak serius. Soalnya, sudah bangun tetapi males banget rasanya bangkit dari ranjang. Dengan muka sedikit beda dari biasanya, ia mengajak ke RS Puri Cinere, menemui Pak Alfiden, dokter kebidanan langganannya dulu ketika hamil Aura, anak pertama kami. “Emang, kamu hamil lagi Mah?” tanyaku surprise. Dijawan hanya dengan anggukan yang kurang serius.

Setelah bikin janjian, kami menemui Alfiben siang harinya. “Selamat Pak, usia kandungan tujuh minggu,” kata dokter ramah dan murah senyum itu. Walau jarak kehamilan dengan sebelumnya terbilang pendek, dia meyakinkan kami bahwa hal itu masih bisa ditoleransi. “Yang penting ibu jangan terlalu nervous seperti kehamilan pertama, jadi nggak sering mual,” katanya. Akhirnya, istriku sedikit lega dan raut wajahnya menggambarkan sebuah optimisme menjaga kandungannya dengan sepenuh hati. Semangat ya Mah…

smile..

Komentar (3) »