Ini adalah lebaran ke-5 yang saya alami sejak hijrah ke Jakarta 1 Maret 2003 lalu. Selain itu, hari ini juga piket lebaran ke-5 yang saya alami di kantor, mengawal koran tetap terbit menyapa pembaca. Tahun pertama bertugas terasa aneh dan janggal. Lha wong, yang lain pada silaturahmi, keliling sanak saudara, dan kumpul-kumpul, kok ini malah masuk kerja. Sorot mata para tetangga juga bernada keheranan, tetapi apa mau dikata. Perintah ya harus dilaksanakan!
Banyak orang, terutama sesama teman jurnalis, menilai kebijakan Jawa Pos Group ini dianggap terlalu kejam dan memeras karyawan. Tetapi, yang terjadi di dalam justru sebaliknya. Ketika rapat koordinasi lebaran lalu, ternyata jumlah petugas piket lebaran dianggap terlalu banyak. Meski dipaksa libur, banyak yang menolak dan memilih untuk piket. ”Gimana sih ini? Disuruh libur kok pada nggak mau?” kata Pak Irwan, Pimred kami keheranan.
Itulah kenyataannya, di luar orang menilai kebijakan perusahaan kejam, tetapi di dalam orang malah berebut piket. Apa karena insentifnya? Padhl jumlahnya jg nggak manusiawi.
”Lagian, ngapain juga di rumah,” kata Dewi, si anak baru, orang Solo asli, tp ora iso boso Jowo, yang sejak lahir sudah tinggal di Jakarta. Alasan dia masuk akal juga. Lagian, ada hiburan menarik selama kita masuk piket. Sebab, parcel yang datang entah darimana terus mengalir ke kantor. Begitu si pengantar parcel menghilang, maka serbu…..!!! Yang tersisa akhirnya hanya keranjangnya saja.
Begitulah kantor kami, unik dan aneh.
anas fauzi rakhman berkata,
Oktober 15, 2007 @ 6:46 am
Jumat malam pulang dari lokasi.
Sabtu pagi setelah sholat Ied masuk kantor
Ahadnya masuk kantor lagi sampai jam 00.00
Ga ada intensif khusus.
Apa kata bos deh
danalingga berkata,
Oktober 15, 2007 @ 2:55 pm
Wah, malah jadi seru gitu>